Ragam Paragraf

1.1. Latar Belakang
Sejarah Indonesia bermula saat kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara mengalami perkembangan yang begitu pesat dalam bidang perniagaan dan seiring berjalnnya waktu banyak sekali kapal-kapal asing dari India, Arab, Tiongkok dan Eropa yang berlabuh dan menjejakan kaki untuk berniaga dan meraih keuntungan dari hasil perniagaan mereka dengan bangsa kita yang mana bumi nya selalu menghasilkan komoditas dagangan yang bernilai di pangsa pasar dunia. Akan tetapi ada satu hal yang mebuat kita bertanya-tanya dengan apakah mereka saling berinteraksi dengan manusia nusantara, sedangkan bahasa yang digunakan saat itu yang mana sudah barang tentu bukan bahasa indonesia karena nama Indonesia pun belum ada dan bangsa kita masih terpecah berdasarkan wilayah kerajaan mereka dan jenis sukubangsa di dalam kerajaan mereka sendiri. Kemungkinan besar semua orang asing yang berniaga di seluruh kepulauan nusantara bergantung pada bahasa isyarat yang memungkinkan antara pedagang dan pembeli untuk saling mengerti tujuan antara mereka, karena perdagangan pada hakikatnya adalah mempertemukan pedagang dan pembeli untuk mencapai kesepakatan bersama dalam hal perniagaan.
Seiring denga berjalannya waktu, pada tanggal 28 oktober 1928 di hari sumpah pemuda, pemuda Indonesia yang berkumpul dari berbagai macam suku bangsa menetapkan sumpahnya untuk saling berbahasa satu bahasa nasional Indonesia yang bisa mempersatukan bangsa kita dan secara langsung menghilangkan batas ketidakpahaman anatara kita. Oleh karena itu bahasa merupakan sebuah anugerah dan berkah yang diberikan Tuhan kepda kita, oleh sebab itu kita harus menjaga dan melestarikannya, bahasa indonesia adalah bahasa yang resmi dan akan selalu kita junjung sampai kapanpun karena bahasa indonesia merupakan anugerah tak ternilai yang Tuhan berikan kepada bangsa kita.
Akan tetapi belakangan ini penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar sudah mulai pudar seiring dengan perkembangan dan dampak pengaruh.
globalisasi yang sangat masif dikalangan generasi muda Indonesia, oleh karena itu dengan makalah ini kami berusaha untuk kembali mengenalkan salah satu komponen yang harus digunakan saat menulis dengan bahasa indonesia yang baik dan benar, komponen yang dimaksud adalah paragraf yang mana secara singkat pengertiannya merupakan gabungan dari beberapa kalimat yang tujuannya adalah menjelaskan pikiran utama sang penulis, dan ini merupakan suatu komponen vital saat kita menuliskan suatu hal untuk menjelaskan gagasan utama yang sedang di kemukakan oleh penulis.

1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Apa yang dimaksud dengan paragraf?
1.2.2. Apa saja komponen penting yang membangun sebuah paragraf?
1.2.3. Apa tujuan utama dari sebuah paragraf?
1.2.4. Apa saja jenis-jenis paragraf?
1.2.5. Bagaimana teknik pembentukan sebuah paragraf?

1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui pengertian dari paragraf.
1.3.2. Untuk mengetahui komponen-komponen penting dari sebuah
paragraf serta setiap unsur yang membangun paragraf tersebut.
1.3.3. Untuk mengetahui mengenai paragraf secara umum agar
memudahkan dalam penulisan karya tulis ilmiah.









BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Paragraf
Menurut Chaer (2011: 27-28) paragraf adalah satuan Bahasa yang dibangun oleh dua buah kalimat atau lebih secara semantis dan sintaksis merupakan satu kesatuan yang utuh. Secara semantis artinya didalam paragraf itu terdapat satu ide, satu gagasan pokok atau utama yang dilengkapi dengan keterangan tambahan mengenai ide atau gagasan pokok itu. Secara sintaksis berarti didalam paragraf iitu terdapat sebuah kalimat utama yang berisi gagasan pokok atau utama, ditambah dengan sejumlah kalimat lain yang berisi keterangan tambahan tentang gagasan utama pada kalimat itu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru). Paragraf bisa diartikan juga sebagai rangkaian kalimat yang mana merupakan ide atau gagasan utama yang hendak diutarakan oleh penulis dan dikembangkan menjadi satu kesatuan rangkaian kalimat yang runtut, sistematis dan juga logis agar lebih mudah dipahami oleh para pembaca yang diharapkan bisa mengerti inti pemikiran penulis yang dituangkan dalam kalimat-kalimat yang saling berhubungan dan lebih besar atau bisa kita sebut paragraf.
Menurut Nurdjan (2015: 52) pengertian paragraf yaitu “Paragraf adalah satu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih luas daripada kalimat. Ia merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk menjelaskan sebuah pikiran utama. Melalui paragraf itu gagasan menjadi jelas oleh uraian tambahan, yang tujuannya menonjolkan pikiran utama secara lebih jelas. Setiap paragraf hanya boleh mengandung satu pikiran utama atau gagasan utama secara jelas”.
Kesimpulannya paragraf adalah untaian kalimat yang mana mendukung gagasan utama dalam sebuah tulisan dengan cara menjabarkan gagasan utama
menggunakan untaian-untaian kalimat padu yang mendeskripsikan dan memperkuat argumen dari gagasan utama suatu tulisan.
2.2. Komponen Penting Paragraf
2.2.1. Kesatuan
Kesatuan dalam paragraf yakni gagasan utama yang ada dalam suatu
paragraf hanya diperbolehkan satu saja, dalam artian tidak boleh lebih karena alasan rasional jika suatu paragraf memiliki lebih dari satu gagasan utama paragraf tersebut akan memiliki penjelasan yang aneh dan tidak sinkron. Oleh karena itu paragraf yang sekiranya memiliki gagasan utama yang berbeda-beda harus dipecah dan dibuat berbeda antara satu dengan yang lain. Jika tidak maka akan terjadi ketidaksinkronan tulisan yang membuat pembaca bingung dan kemungkinan menyebabkan penafsiran ganda.
2.2.2. Kepaduan
Kepaduan berarti kompak, yakni kalimat dalam paragraf tersebut harus mendukung gagasan tunggal yang ada dalam paragraf, intinya
paragraf yang satu pasti padu karena jika suatu paragraf memiliki lebih dari satu gagasan utama maka kalimat-kalimat yang terdapat di dalamnya tidak akan bisa padu untuk mendukung kedua gagasan
utama yang sudah jelas akan berbeda.
Contoh : Masih banyak yang belum memahami bahaya membuang sampah elektronik di sembarang tempat. Padahal, sampah elektronik dapat mengakibatkan sejumlah dampak buruk bagi lingkungan jika dibuang tidak pada tempatnya. Sampah elektronik sendiri merupakan sampah yang jauh lebih sulit diurai secara alami dibanding sampah plastik. Belum lagi beberapa komponen sampah ini mengandung berbagai bahan kimia berbahaya seprti timbal dan PVC yang akan membahayakan bila sampai terbakar.
Pada kalimat di atas, letak kalimat utama ada di awal paragraf (kalimat yang dimiringkan). Adapun isi dari kalimat utama tersebut adalah mengenai kurangnya masyarakat luas dalam memahami bahaya sampah elektronik jika di buag ke sembarang tempat.
2.3. Unsur-Unsur Paragraf
Wijayanti, dkk (2013) mengungkapkan bahwa unsur pembentukparagraf terdiri dari empat, yaitu gagasan pokok (utama), kalimat topik atau kalimat pokok, kalimat penjelas atau pendukung dan kalimat simpulan.
2.3.1. Gagasan Pokok (Utama)
Gagasan pokok merupakan jiwa dari paragraf yang berisi dasar masalah yang akan dibicarakan (Wijayanti,dkk, 2013 : 101). Gagasan utama berisi pernyatan umum tentang isi keseluruhan paragraph. Gagasan utama biasanya terdapat didalam kalimat topik atau kalimat utama. Untuk mengetahui gagasan utama, pembaca harus membaca keseluruhan paragraf tersebut.
2.3.2. Kalimat pokok
Kalimat pokok adalah kalimat yang berisi ide pokok atau gagasan utama penulis. Ciri-ciri kalimat pokok :
1. Terdapat didalamnya suatu problematika yang masih perlu agar bisa dibahas lebih mendalam.
2. Merupakan kalimat yang lengkap dan tidak butuh kalimat penopang (kalimat berdikari)
3. Mempunyai arti yang cukup jelas sehingga tidak perlu dihubungkan dengan kalimat lain
4. dapat dibentuk tanpa bantuan kata sambung dan frase transisi
2.3.3. Kalimat Pendukung
Kalimat pendukung adalah kalimat yang berfungsi menjelaskan gagasan utama secara lebih merinci dan mendukung kalimat pokok.
Ciri-ciri kalimat pendukung :
1. Lebih sering kepada kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti)
2. Arti dari kalimat yang dicantumkan akan lebih jelas apabila dihubungkan atau diruntukan dengan kalimat lain
3. pembentukannya sering memerlukan pembentukan kata sambung dan frase transisi

4. isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data tambahan lain yang bersifat mendukung kalimat topik.
2.3.4. Kalimat Simpulan
Kalimar simpulan tidak selalu hadir di etiap paragaraf. Kalimat simpulan ini sebenernya merupakan kalimart penegas. Kalimat ini bertugas megaskan kembali pernyataam yang terdapat pada kalimat topik. Oleh karena itu, dalam kalimar simpulan tidak boleh ada topik baru yang dikemukakan.

2.4. Tujuan Pembentukan Paragraf
Sejatinya pembentukan paragraf memang ditujukan agar pembaca tidak kebingungan saat membaca sebuah tajuk tulisan yang memiliki banyak gagasan pemikiran. Mengapa dibuat pargraf karena perparagraf hanya diperbolehkan memiliki satu gagasan utama. Oleh karena itu setiap gagasan utama dapat dijabarkan dengan runtut, sitematis dan logis dan membuat pembaca memahami setiap gagasan utama dengan jernih dan tanpa kesalahan penafsiran yang berarti.

2.5. Keragaman Jenis Paragraf
Berdasarkan fungsinya dan wujudnya dalam karangan paragraf dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu paragraf pembuka, paragraf pengembang, dan paragraf penutup. Ketiga jenis paragraf itu memiliki fungsi tersendiri yang membedakannya satu sama lain. Secara singkat ketiga jenis paragraf tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
2.5.1. Paragraf Pembuka
Isi paragraf pembuka bertujuan mengutarakan suatu aspek pokok pembicaraan dalam karangan. Sebagai bagian yang mengawali sebuah karangan, paragraf pembuka harus dapat difungsikan untuk :
1. mengantar pokok pembicaraan
2. menarik minat dan perhatian pembaca
3. menyiapkan atau menata pikiran pembaca untuk mengetahui isi seluruh karangan.

Disarankan agar paragraf pembuka jangan terlalu panjang agar tidak membosankan.
2.5.2. Paragraf Penghubung
Paragraf ini bertujuan menghubungkan pokok pembicaraan suatu karangan yang sebelumnya telah dibahas di paragraf sebelumnya. Contoh dan ilustrasi, inti permasalahan dan uraian pembahasan adalah isi sebuah paragraf penghubung atau paragraf pegembang. Paragraf penghubung atau pengembangan berfungsi dalam paragraf untuk :
1. mengemukakan inti persoalan
2. memberi ilustrasi atau contoh
3. menjelaskan hal yang akan diuraikan pada paragraf berikutnya
4. meringkas paragraf sebelumnya
5. mempersiapkan dasar atau landasan bagi kesimpulan.
Semua paragraf yang terletak antara paragraf pendahuluan dan paragraf penutup digolongkan sebagai paragraf penghubung. Oleh karena itu, anatara paragraf yang satu dan paragraf lainnya harus saling berhubungan secara logis.
2.5.3. Paragraf Penutup
Merupakan paragraf yang mengakhiri sebuah tulisan. Paragraf penutup juga biasanya berisi kesimpulan dari semua pembahasan. Paragraf ini sering berisi penegasan atau pernyataan kembali tentang masalah-masalah yang diuraikan pada paragraf penghubung agar maksud penulis menjadi lebih jelas jika ada hal-hal yang dianggap sangat penting. Mengingat paragraf penutup dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan, penyajiannya harus memperhatikan hal berikut ini :
1. Sebagai bagian penutup, paragraf ini tidak boleh terlalu panjang
2. Isi paragraf harus berisi simpulan sementara atau simpulan akhir sebagai cermin inti seluruh uraian
3. Sebagai bagian yang paling akhir dibaca, hendaknya dapat menimbulkan kesan yang mendalam bagi pembaca
4. Isi paragraf penutup banyak ditentukan oleh sifat karangan.

2.6. Syarat Terbentuknya Paragraf
Syarat terbentuknya paragraf antara lain :
2.6.1. Kesatuan Pikiran
Kesatuan pikiran adalah untaian kalimat yang terdapat pada suatu paragraf yang mendukung gagasan utama sebagai topik awal sebuah permasalahan yang sedang dibicarkan dalam sebuah paragraf, dan juga mendukung suatu gagsan menjadi gagasan utama. Berikut ini contoh dari kesatuan pikiran :
“Industri perkapalan siap memproduksi jenis kapal untuk mengganti kapal yang akan dibesituakan. Akan tetapi kemampuan mereka terbatas. Kalau dalam waktu yang singkat harus memproduksi kapal sebanyak yang harus dibesituakan, jelas industri dalam negeri tidak mampu. Peningkatan kemampuan ini memerlukan waktu. Sebaiknya hal ini dilakukan bertahap. Kalau bentuk peremajaan ini pemerintah sampai mengimpornya dari luar negeri, tentu peluang yang begitu besar untuk industri dalam negeri tidak termanfaatkan.” Berdasarkan contoh paragraf di atas dapat dipahami bahwa hanya mengandung satu pikiran utama, yaitu penggantian kapal yang akan dibesituakan . Pikiran utama ini kemudian diperinci dengan beberapa pikiran penjelas
1. Kesiapan industri perkapalan dalam negeri
2. Kemampuan terbatas
3. Pelaksanaan secara terbatas
4. Impor dapat menghilangkan kesempatan.
Penjelasan atau perincian itu diurutkan sedemikian rupa sehingga hubungan antara satu kalimat dan kalimat yang lain membentuk kesatuan yang bulat.
2.6.1. Koherensi Dan Kepaduan
Koherensi dan kepaduan adalah kepaduan antar kaliamat yang baik di dalam sebuah paragraf agar pembaca tidak serta-merta kebingungan dan mengalami penafsiran ganda seperti yang kami cantumkan sebelumnya.


2.7. Membangun Paragraf Yang Padu
Membangun paragraf yang padu menggunakan 3 cara pendekatan kebahsaan.
2.7.1. Penggunaan Repetisi
Repetisi adalah pengulangan kata kunci yang dianggap penting dalam sebuah paragraph. Penggunaan kata kunci yang terus menerus di ulang berfungsi agar kepaduan paragraf tetap terjaga dengan baik. Berikut ini contoh dari penggunaan repetisi :
“ Faktur adalah tanda bukti penjualan barang. Faktur ada yang digabungkan dengan kuitansi dan faktur itu disebut faktur berkuitansi. Faktur berkuitansi cocok dipakai untuk penjualan tunai. Faktur yang kedua adalah faktur tanpa kuitansi. Faktur tanpa kuitansi ini dapat dipakai baik untuk penjualan tunai maupun kredit.”
2.7.2. Penggunaan Kata Ganti
Pemakain kata ganti dalam paragraf berfungsi menjaga kepaduan antara kalimat-kalimat yang membangun paragraf. Kata ganti dapat bertugas menunjukkan kepaduan suatu paragraf. Berikut ini contoh dari penggunaan kata ganti :
“Pak Amir dengan segala senang hati memandangi padi yang tumbuh dengan subur. Ternyata usahanya tidak sia-sia. Tinggal beberapa minggu lagi ia akan memetik hasilnya. Sekarang telah terbayang di matanya, orang sibuk memotong, memikul padi berkarung-karung, dan menimbunnya di halaman rumah. Tentu anaknya dan istrinya akan ikut bergembira. Hasil padi yang cukup baik ini tentu akan mengantarkan mereka menuju kebahagian.”
2.7.3. Penggunaan Kata Transisi
Kata transisi adalah kata yang dapat menghubungkan kalimat satu dengan kalimat lainnya agar tetap terdapat suatu kepaduan dalam paragraf. Kata transisi disebut juga sebagai konjungsi. Ada dua macam konjungsi yang dipakai antara lain :

1. Konjungsi intra kalimat yaitu kata sambung yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat. Contohnya yaitu “dan”, “tetapi”, “karena”, “agar”, dan lain sebagainya.
2. Konjungsi antar kalimat yaitu sebuah konjungsi yang menghubungkan antara kalimat – kalimat yang ada di dalam paragraf. Contohnya yaitu ; “Lagi pula”, “Oleh karena itu”, “Terlebih lagi”, “Namun”, “Disamping itu”, dan lain – lain.
Berikut ini contoh dari penggunaan kata transisi :
” Jam lima pagi saya bangun. Sesudah itu, saya ke kamar mandi, lalu saya mandi berpakaian. Se sudah itu, saya berpakaian. Setelah berpakaian, saya makan pagi. Sesudah itu, saya pamit pada Ayah dan Ibu, lalu saya berangkat sekolah.”
Paragraf di atas, menunjukkan bahwa semua hubungan kalimat dikuasai kata transisi yang mengatur hubungan waktu. Penggunaan kata transisi yang sama, seperti contoh di atas kurang baik, karena dapat membosankan membacanya. Peralihan dari kalimat satu ke kalimat yang lain dalam paragraf dapat dihubungkan atau dikaitkan dengan kata-kata atau frase transisi. Sesuai dengan jenis hubungan yang ditunjukkan atau yang dimaksud, pengguna bahasa dapat memilih kata-kata atau frase transisi di bawah ini sebagai penghubung untuk pengait dalam paragraph. Berikut ini beberapa kata-kata atau frase transisi :
1. Akibat/Hasil : Contoh kata atau frase (akibatnya, karena itu, maka, oleh sebab itu, dengan demikian, jadi, sebab itu)
2. Pertambahan : Contoh kata atau frase (berikutnya, demikian juga, selain itu, lagi pula, lalu, selanjutnya, tambahan lagi, lebih lebih lagi, di samping itu, seperti halnya, jugam tambahan, akhirna, kedua, ketiga, demikian juga
3. Perbandingan : Contoh kata atau frase (dalam hal yang sama, lain halnya, sebaiknya, lebih baik dari itu, berbeda dengan itu, seperti, dalam hal yang sedemikian, sebagaimana

4. Pertentangan : Contoh kata atau frase (akan tetapi, bagaimanapun, meskipun, begitu, namun, walaupun demikian, sebaliknya, sama sekali tidak, meskipun, biar pun)
5. Tempat : Contoh kata atau frase (berdekatan dengan itu, di sini, di seberangm di sana, tak jauh daru sana, di bawah, persis di depan, di sepanjang, dekat, berdampingan dengan)
6. Tujuan : Contoh kata atau frase (agar, untuk, guna, untuk maksud itu, dengan maksud tersebut, agar, supaya)
7. Waktu : Contoh kata atau frase (baru-baru ini, beberapa saat kemudian, mulai, sebelum, segera, sesudah, sejak, ketika, sementara itu, beberapa saat kemudian, sesudah itu, setelah)
8. Singkatan : Contoh kata atau frase (singkatnya, ringkasnya, akhirnya, sebagai simpulan, pendek kata, pendeknya, secara singkat, pada umumnya, seperti sudah dikatakan, dengan kata lain, misalnya, yakni, yaitu, sesungguhnya).